Welcome Guys

Pages

Send Quick Massage

Name

Email *

Message *

Tuesday, March 20, 2018

Naskah Drama Sederhana : Super Hoho

by endar  |  in INDONESIA at  March 20, 2018

Naskah Drama Sederhana : Super Hoho
Babak I
(Hoho berjalan ke kelas, membawa tumpukan buku. Hoho menabrak hana yang berjalan dengan tyas)
Hana    : Oh, maaf, maaf.
Tyas     : Hei, yang nabrak tadi dia, kemu gak perlu minta maaf
Hana    : Kamu jangan gitu dong, aku kan juga gak hati hati...
Hoho    : (nyahut) oh, maaf, aku yang salah, aku gak liat liat tadi. Maaf. (pergi)
Hana    : Enggak,... (ngomong ke hoho, tapi keburu pergi)
Tyas     : Udah, ayo, cepetan, nanti telat, (narik hana.)

Babak II
Di kelas, Ibu Lusi masuk ke kelas Hana bersama seorang anak baru yang berpenampilan cukup aneh, atau bisa disebut cupu. Anak itu bernama Hoho.
(Bu Lusi masuk, lalu Hoho)
Hana    : Tyas, tyas, itukan anak yang nabrak kita tadi, (heboh)
Tyas     : (membaca) Apa? Siapa?
Hana    : Itu lo (nunjuk Hoho)
Tyas     : (lihat hoho) oh, anak baru ternyata,
Bu Lusi : Anak anak, hari ini, kita kedatangan siswa baru dari daerah,,,, (mikir) dari jawa. Perkenalkan diri kamu.
Hoho    : (gugup) Assalamualaikum wr. Wb. Eh,, nama saya Nugroho M, tapi saya sering dipanggil Hoho. Saya dari daerah Kertarejaya, jawa tengah. Wassalamualaikum wr wb
Bu Lusi : Nugroho M? Mnya apa?
Hans    : Monyet!! (teriak) hahaha
Bu Lusi : Hans!!
Hans    : (celometan) Maaf Bu!!
Bu Lusi : Ya sudah, kamu boleh duduk disana, belakangnya Hana
(duduk di belakang hana) (Hana nengok)
Hana    : Hai, aku Hana. Kamu Hoho kan? Maaf ya, soal tabrakan tadi, salam kenal. (senyum, ngajak jabat tangan) (tyas nggak enak, nengok)
Tyas     : Hai, aku tyas. Maaf, tadi di luar aku sedikit kasar, jangan diambil hati. Dan mereka, (nunjuk Hans jay jay)  jangan pedulikan mereka ya. Devil couple. Mereka memang seperti itu.
Hana    : iya, kalo mereka mengganggu kamu, bilang sama kita. Oke?
(Hoho senyum, ngangguk, canggung)
Bu Lusi : anak anak, buka buku kalian halaman 123

Babak III
Waktu istirahat telah tiba, Hoho pergi ke kantin sendirian karena ia tidak memiliki teman. Setelah Hoho mengambil makanan, ketika akan mencari tempat duduk, kaki Hoho dijegal oleh Jayjay hingga ia terpeleset dan makanannya jatuh semua.
(jayjay njegal, makanan hoho jatuh)
Jayjay  : Ooops, Maaf, (jahat)
Hans    : Hoho, kenapa makanannya kamu taruh di lantai semua. Nggak biasa duduk di kursi ya,, KAMPUNGAN!
Hoho    : (tarik napas, tahan emosi, ngambil makanan)
Jayjay  : haha, emang ya, kalo monyet nggak bakalan bisa bergaul sama manusia, haha
(tyas hana lewat, nyamperin)
Hana    : Hoho, kamu ngapain?
Hans    : Dia itu mau makan di lantai, biasalah,kampugan!
Tyas     : Kalian diem! (ngomong sama jayjay Hans)
Hoho    : Makanan saya jatuh mbak, (berdiri lagi, udah ngambilin makanan)
Hana    : Pasti kamu! (natap jayjay)
Jayjay  : Kok aku sih? Bukan salahku dong, kalau dia nabrak kakiku.
Tyas     : Jay, Hoho punya salah apa sih sama kamu...
Hoho    : Sudah mbak, nggak papa,,
(kriiiing)
Hana    : yah, bel masuk, kita nggak jadi makan gara gara kalian! (ke jayjay hans)
(jayjay hans pergi)
Tyas     : Sudahlah, ayo ke kelas.

Babak IV
Beberapa hari setelah kedatangan Hoho, diadakan ulangan Matematika. Sebelum ulangan dimulai. Jayjay dan Hans mengancam Hoho.
(hoho duduk) (hans jayjay masuk) (berhenti di depan meja Hoho)
Hans    : Hey, sepertinya Bu Lusi suka banget sama kamu.
Jayjay  : Pasti dong , diakan pinter Matematika.
Hans    : Ooh (pura pura tidak tahu). Kebetulan banget, hari ini kan ada ulangan matematika. Gimana kalau kamu bantu kami sedikit.
Hoho    : Maksudnya apa?
Jayjay  : (nyentak) Perlu diperjelas ya? Maksudnya nanti kamu ngasih jawaban ke kita.
Hoho    : Saya nggak berani mbak,
Hans    : nggak peduli. Kamu harus nyontekin kita. Kalau tidak? Kamu tanggung akibatnya. (ngancem)
(murid murid masuk) (jayjay hans duduk)(Bu Lusi masuk)
Bu Lusi : Anak anak, keluarkan selembar kertas sekarang juga. (membagikan kertas soal)
(Semua murid mengerjakan dengan tenang. Kecuali Hans dan jayjay)
Jayjay  : Hoho, lihat jawaban kamu (Bisik bisik)
Hoho    : Saya nggak berani mbak! (Bisik bisik)
Hans    : Cerewet ah, kasih aja jawabannya (bisik bisik)
(jayjay hans nyontek terus)
Bu Lusi : Waktu tinggal 5 menit! Kalau sudah selesai, jawaban kalian boleh dikumpulkan.
(Hoho mengumpulkan) (Jayjay dan hans mencoba memanggil tapi hoho tidak peduli)

Babak V
Di kantin, Hoho duduk sendirian. Hans dan Jay jay yang jahilpun menggoda Hoho.
(hoho makan sendiri di kantin) (hans dan jayjay lewat)
Hans    : (melihat hoho) ada hohoho. Gangguin yuk. (jayjay dan hans menghampiri hoho.)
Jayjay  : ehh...  Ada hoho.( Duduk di kiri hoho)
Hans    : Kok sendirian sih, gak bawa temen alien kamu, haha (ketawa jahat)
Jayjay  : hoho makan apa? Kok Cuma makan dikit sih? Nggak cocok ya sama makanan sini?     Ah, iya, kamu kan biasanya makan ketela pohon sama sagu, haha (ketawa jahat)
(hoho berdiri, akan pergi)
Hans    : (pegang pundak hoho, mendorong agar duduk) kamu mau kemana? Ditemenin kok malah pergi, nanti kamu digangguin temen lain lo, iya nggak Jay ?
Jayjay  : iya, tau tuh, si cupu (ketawa)
(tyas dan hana lewat)
Tyas     : (capek) eh, hans, jay jay. Tau nggak, kalian tu dari tadi dicariin sama Bu Lusi? Kemana aja sih?
Hana    : iya, Bu Lusi marah besar sekarang, katanya nilai matematika kalian hancur.
Jayjay  : Nggak mungkin dong, kita kan udah nyontek si Hoho,
Hana    : Tapi kenyataannya gitu, percaya alhamdulillah, gak percaya ya terserah
Hans    : Ah, dasar Bu Lusi. Sudahlah, ayo cepetan, ke kantor guru. (Tyas Hana duduk di samping hoho.)
Hoho    : Benar Mbak kalo mereka dimarahin Bu Lusi?
Tyas     : Iya, kenapa?
Hoho    : Mereka nyontek saya lo mbak, jawaban mereka sama seperti jawaban saya, sama persis.
Hana    : Beneran? Tapi kamu dapat 100 lo. Selamat ya,
Tyas     : Oh iya, selamat ya Hoho. Pinter banget.
Hoho    : Makasih mbak.
Tyas     : Kita kelihatan tua benget ya. Panggil nama aja, nggak usah pakai mbak.
Hoho    : Iya mbak.
Hana    : Masih aja, panggil nama dong.
Hoho    : Iya, Hana, Tyas.

Babak VI
Hoho sedang duduk sendiri di kelas, tiba tiba Jayjay dan Hans datang membawa tumpukan buku yang sangat banyak dan memarahi Hoho karena telah membuat mereka dihukum.
(jayjay hans masuk membawa buku banyak) (buku dibanting di meja)
Hans    : Heh, udik! Gara gara kamu kita dihukum meringkas buku sebanyak ini! Kamu harus tanggung jawab!
Jayjay  : iya, ringkaskan ini buat kita. Ini semua salah kamu, kamu nggak memberi kita jawaban yang benar ketika ulangan kemarin
Hoho    : Saya sudah memberi jawaban yang benar mbak, saya nggak bohong
Hans    : Ah, cerewet. Udah, kerjain aja itu. Nggak usah banyak omong.
(hans jayjay keluar, tyas hana masuk)
Hana    : Mereka kenapa? Sepertinya sedang marah? (tanya ke Hoho)
Hoho    : Mereka marah sama saya. Gara gara mereka dapat nilai buruk.
Tyas     : Trus, ini buku apa? Banyak banget,
Hoho    : Saya disuruh meringkas buku buku ini,
Tyas     : yang nyuruh siapa?
Hoho    : ya mereka
Hana    : Kok kamu mau sih,
Hoho    : Nggak berani nolak saya.
Hana    : ah, mereka itu nyebelin banget. Jahat, aku bantu ya?
Tyas     : Kamu ngapain ikut ikutan, mending dilaporin ke Bu Lusi aja. Aku sudah jengkel.
Hoho    : Jangan yas, kasihan mereka. (ngomong ke tyas) Hana, nggak papa, saya kerjakan sendiri saja.

Babak VII
Beberapa hari setelah kejadian itu, Jayjay dan Hans terus menjahili Hoho. Suatu ketika, ketika jam istirahat, Jayjay dan Hans masuk ke kelas mengendap endap dan menempelkan permen karet di kursi Hoho.
Hans    : Sssst , ayo cepetan! (mengendap endap masuk, jay di belakangnya.)
Jayjay  : Serius kita mau nempelin ini ke kursinya hoho? Aku takut ketahuan.
Hans    : Cuma perpen karet, nggak papa. Nggak akan ketahuan.
(hans nempelin permen karet di kursi Hoho)
Kriiiing   (semua murid masuk)
(Bu Lusi masuk)
Bu Lusi : Anak anak, hari ini kita latihan soal LKS halaman 158. Nanti satu satu mengerjakan soal ke depan. Hoho menerjakan soal nomor 1, kemudian tyas mengerjakan nomor 2, Hana nomor 3.
(Hoho tidak bisa berdiri,)
Kreeeek!
(celana robek) (jayjay hans kaget)
Bu Lusi : Hoho, ada apa?
Hoho    : (nengok kursi) sepertinya ada yang menaruh permen karet di kursi saya bu.
Bu Lusi : Permen karet? Siapa yang menaruh permen karet di kursi Hoho?
Murid 1: (angkat tangan) jayjay dan Hans bu. Saya tadi melihat sendiri Bu.
Bu Lusi : Jayjay, Hans, itu benar?
Hans    : Kami cuma bercanda Bu,
Bu Lusi : Candaan kalian keterlaluan, ikut saya sekarang juga.

Babak VIII
Di kantor, Jayjay dan Hans dimarahi oleh Bu Lusi. Mereka juga akan diberi hukuman oleh Bu Lusi, tetapi Hoho menolongnya.
Bu Lusi : Kalian itu benar benar keterlaluan! Ibu selalu mengawasi kalian, dan perilaku kalian benar benar membuat saya marah. Kalian selalu jahat kepada anak anak yang lain. Kalian tahu kenapa nilai matematika kalian buruk? Karena Ibu mengurangi nilai kalian. Ibu tahu persis kalau kalian mencontek jawaban Hoho. Ibu kira kalian sudah jera, ternyata kalian semakin menjadi-jadi. Sekarng juga, tulis surat pernyataan untuk orang tua kalian dan kalian diskors 1 minggu.
Jayjay  : Jangan surat pernyataan bu, ayah saya bisa marah besar.
Hans    : iya bu, saya bisa pindah sekolah bu kalau ayah saya tahu.
Bu Lusi : Terserah kalian, saya berikan waktu 10 menit untuk menulis surat itu sekarang juga.
Dok... dok.... dok....
Bu Lusi : Masuk,
Hoho    : (masuk) Bu, sebelumnya saya minta maaf, saya mohon, ibu jangan menghukum kedua teman saya ini. Saya juga meminta maaf kepada bu Lusi atas kesalahan mereka. Saya mohon Bu.
Bu Lusi : Sebenarnya itu terserah padamu Hoho, karena yang dijahati oleh mereka itu kamu. Kalau kamu memang sudah memaafkan mereka, ibu tidak punya hak untuk menghukum mereka lagi.
Hoho    : Iya Bu, saya sudah memafkan mereka.
Bu Lusi : Baiklah, kali ini kalian bebas dari hukuman. Tapi kalau lain kali kalian mengulanginya lagi, saya tidak segan segan memberikan hukuman yang lebih berat.
Hans    : Saya berjanji tidak mengulanginya lagi bu,
Jayjay  : Saya juga bu, saya janji.
Bu Lusi : Baiklah, kalian boleh pergi sekarang,

Babak IX
Di lorong depan kantor Ibu Lusi, Tyas dan Hana menunggu dengan cemas, meskipun mereka membenci jayjay dan Hans, tetapi mereka tetap menganggap jayjay dan hans teman mereka.
Hana    : Tyas, mereka nggak akan dihukum kan?
Tyas     : Sebenarnya kalau dihukum juga nggak papa sih, biar kapok.
Hana    : Jangan, kasihan.
Tyas     : Iyasih, kasihan, tapi mereka jahat. udahlah, percaya aja sama Hoho, dia pasti bisa menolong mereka.
Hana    : Gimana kalau Hoho ikut dimarahin? Kasihan dia juga,
Tyas     : Ah, udahlah. Jangan mikir aneh aneh.
(hoho, jayjay, hans keluar)
Hana    : Kalian nggak papa? Nggak dimarahin kan?
Hoho    : Nggak papa,
Jayjay  : Kami tidak jadi dihukum karena Hoho
Hans    : Hoho, terimakasih ya. Kami minta maaf sudah sering jahat sama kamu. Kami berjanji nggak akan ngulangin lagi.
Hoho    : Iya, saya juga minta maaf kalo saya punya kesalahan
Jayjay  : kamu itu nggak punya salah sama sekali sama kita. Kalian berdua juga, Hana, Tyas, kami minta maaf ya. (ngajak salaman hana)
Hana    : Iya, udah aku maafin dari dulu kok
(jayjay ngajak salaman tyas)
Tyas     : beneran nih, nggak ada devil couple lagi? Nggak seru dong
Jayjay  : Nggak ada, Devil Couple dihapus,
Hans    : Sekarang yang ada itu Angle Couple. Iya nggak Han?
Hana    : ada yang laper enggak? Gara gara cemas tadi energiku habis.
Hoho    : Ya sudah, ayo semuanya ke kantin.

            Akhirnya mereka berteman dengan baik dan selalu bersama.Tidak ada kejahilan yang berlebihan sehingga membuat pertikaian diantara mereka lagi.

doakan untuk nama - nama di bawah ini yang sudah menyusun drama sampai selesai. 

Nama  : - Aurel Ananda Hadianto :
-          Ismi Erlinda                 :
-          M.Fahri Krisnawan    :
-          Ridho al-baihaqi           :
-          Siti Nuralifah                 :
-          Syasya D.N                    :

Saturday, March 10, 2018

LEGENDA MALIN KUNDANG DALAM BAHASA INGGRIS S

by endar  |  in INGGRIS at  March 10, 2018

MALIN KUNDANG


Once upon a time, on the north coast of Sumatra lived a poor woman and his son. The boy was called Malin Kundang. They didn’t earn much as fishing was their only source of income. Malin Kundang grew up as a skillful young boy. He always helps his mother to earn some money. However, as they were only fisherman’s helper, they still lived in poverty. “Mother, what if I sail overseas?” asked Malin Kundang one day to his mother. Her mother didn’t agree but Malin Kundang had made up his mind. “Mother, if I stay here, I’ll always be a poor man. I want to be a successful person,” urged Malin kundang. His mother wiped her tears, “If you really want to go, I can’t stop you. I could only pray to God for you to gain success in life,” said his mother wisely. “But, promise me, you’ll come home.”
In the next morning, Malin Kundang was ready to go. Three days ago, he met one of the successful ship’s crew. Malin was offered to join him. “Take a good care of yourself, son,” said Malin Kundang’s mother as she gave him some food supplies. “Yes, Mother,” Malin Kundang said. “You too have to take a good care of yourself. I’ll keep in touch with you,” he continued before kissing his mother’s hand. Before Malin stepped onto the ship, Malin’s mother hugged him tight as if she didn’t want to let him go.
It had been three months since Malin Kundang left his mother. As his mother had predicted before, he hadn’t contacted her yet. Every morning, she stood on the pier. She wished to see the ship that brought Malin kundang home. Every day and night, she prayed to the God for her son’s safety. There was so much prayer that had been said due to her deep love for Malin Kundang. Even though it’s been a year she had not heard any news from Malin Kundang, she kept waiting and praying for him.
After several years waiting without any news, Malin Kundang’s mother was suddenly surprised by the arrival of a big ship in the pier where she usually stood to wait for her son. When the ship finally pulled over, Malin Kundang’s mother saw a man who looked wealthy stepping down a ladder along with a beautiful woman. She could not be wrong. Her blurry eyes still easily recognized him. The man was Malin Kundang, her son.
Malin Kundang’s mother quickly went to see her beloved son. “Malin, you’re back, son!” said Malin Kundang’s mother and without hesitation, she came running to hug Malin Kundang, “I miss you so much.” But, Malin Kundang didn’t show any respond. He was ashamed to admit his own mother in front of his beautiful wife. “You’re not my Mother. I don’t know you. My mother would never wear such ragged and ugly clothes,” said Malin Kundang as he release his mother embrace.
Malin Kundang’s mother take a step back, “Malin…You don’t recognize me? I’m your mother!” she said sadly. Malin Kundang’s face was as cold as ice. “Guard, take this old women out of here,” Malin Kundang ordered his bodyguard. “Give her some money so she won’t disturb me again!” Malin Kundang’s mother cried as she was dragged by the bodyguard, ”Malin… my son. Why do you treat your own mother like this?”
Malin Kundang ignored his mother and ordered the ship crews to set sail. Malin Kundang’s mother sat alone in the pier. Her heart was so hurt, she cried and cried. “Dear God, if he isn’t my son, please let him have a save journey. But if he is, I cursed him to become a stone,” she prayed to the God.
In the quiet sea, suddenly the wind blew so hard and a thunderstorm came. Malin Kundang’s huge ship was wrecked. He was thrown by the wave out of his ship, and fell on a small island. Suddenly, his whole body turned into stone. He was punished for not admitting his own mother.

semoga postingan saya bermanfaat, dan menambah wawasan mengenai cerita - cirita jaman dahulu di tanah air yang kita injak ini.

RESENSI NOVEL KALAU TAK UNTUNG

by endar  |  at  March 10, 2018

RESENSI NOVEL KALAU TAK UNTUNG


1.Identitas Novel
            Judul                : Kalau Tak Untung
            Penulis             : Selasih (H. Sariamin Ismail)
            Penerbit           : Balai Pustaka, 2001
            Tebal                : 156 Halaman
            Kota terbit       : Jakarta
            Tahun terbit     : 1095

2.Kepengarangan/biografi tokoh “selasih”
H. Sariamin Ismail selain dikenal sebagai seorang sastrawan juga merupakan salah seorang tokoh dan pemikir pendidikan pergerakan Nasioanl. Dilahirkan oleh seorang ibu bernama Sari Uyah dan bapaknya bernama Lalu yang bergelar Dt. Raja Malintang. Anak kedua dari lima bersaudara ini lahir di kampung Koto Panjang desa Sunurut, Talu, Pasaman, Sumatera Barat pada tanggal 31 Juli tahun 1909

3.Sinopsis Novel Kalau Tak Untung
      Rasmani dan Masrul adalah dua orang sahabat karib. Persahabatan yang dimulai sejak mereka duduk dibangku sekolah dasar itu menimbulkan perasaan lain didiri Rasmani. Diam-diam dia mencintai pemuda yang begitu menyayanginya dan memanjakanya itu. Ketika Masrul harus pindah ke Painan untuk bekerja, Rasmani dengan berat hati melepaskanya.
Perasaan ini pun dirasakan oleh Masrul. Surat pertama yang diterima Rasmani dan Masrul, setelah beberapa hari mereka berpisah, membuatnya tak percaya. Guru yang mengajar di desanya ini menduga akan mendapatkan berita yang menggembirakan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dalam suratnya, Masrul mengatakan bahwa dia harus menikah dengan Aminah, anak mamaknya, dua tahun setelah ia mendapatkan banyak pengetahuan di Painan. Masrul melakukan itu karena terpaksa. Ia harus menuruti keinginan kaum kerabatnya, terutama ibunya. Demi kebaikan Masrul, Rasmani menerima sikap Masrul walaupun dengan menahan perasaannya yang sakit. Diperantauan, Masrul bekerja sebagai juru tulis.
Ia mendapat tawaran dari Guru Kepala untuk menikahi anaknya yang bernama Muslina. Pada mulanya, Masrul menolak karena ternyata hati kecilnya lebih tertarik pada Rasmani yang telah lama dikenalnya. Selain itu, ia juga merasa tidak enak kepada Aminah dan kaum kerabatnya apabila ia mengingkari janjinya. Akan tetapi, karena kepintaran Guru Kepala dan istrinya itu mendesak Masrul, akhirnya Masrul menerima tawaran itu. Keputusan Masrul untuk menikah dengan Muslina membuat kaum kerabatnya kecewa dan marah besar. Perasaan Rasmani sendiri begitu kacau. ” Bagaimana hati Rasmani ketika menerima surat Masrul yang mengatakan beristri itu, tak cukup rasanya perkataan dalam bahasa yang kan mewartakanya karena ketika itulah ia tahu benar dan insyaf bahasa ia cinta kepada Masrul.” Kehidupan rumah tangga Masrul dengan Muslina yang sudah membuahkan seorang anak, ternyata tidak berjalan serasi. Keduanya sering terjadi percecokan. Hal itu disebabkan tidak dihargainya Masrul sebagai seorang suami.
Akibatnya, Masrul sering tidak pulang kerumahnya. Ia menghabiskan waktunya dengan bermabuk-mabukan. Keadaan yang semakin memburuk dan tidak dan tidak ada tanda-tanda terselamatkan, membuat Masrul berpikir untuk menceraikan Muslina. Jawabanya pun tidak memuaskan hatinya sehingga keputusan cerai mutlak dilakukan. Sementara itu, Rasmani yang sudah berkeinginan untuk tidak menikah setelah pujaan hatinya menikah dengan orang lain, bertambah hancur hatinya.
Ia tidak bisa melawan rasa cintanya pada Masrul walaupun berbagai usaha dilakukanya, termasuk mengizinkan Masrul menikah dengan Muslina, keputusan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani. Hal ini ditambah lagi dengan pernyataan Masrul belakangan, yang mengatakan bahwa selama ini hidupnya tidak beruntung dan sebetulnya ia mencintai Rasmani. “Api yang telah hampir padam itu, mulailah kembali  memperlihatkan cahayanya, menyala makin lama, makin besar. Kenyataan yang tidak diduga oleh Rasmani dan keluarganya adalah ketika Masrul muncul di kediamanya  di Bukitinggi. Semua kejadian diceritakan oleh Masrul yang membuat Rasmani begitu sedih dengan penderitaan kekasihnya itu. Beberapa waktu kemudian, Masrul melamar Rasmani. Namun, sebelum mewujudkan pernikahanya, ia meminta izin untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu karena sebelumnya ia telah mengundurkan diri dari pekerjaanya di Painan.
Masrul ingin mencari pekerjaan di Medan, dengan harapan akan lebih cepat bekerja dengan bantuan adik Engku Rasad, teman baiknya di Painan. Akan tetapi sampai beberapa bulan lamanya, Masrul belum juga mendapatkan pekerjaan dan berita keadaan dirinya tak pernah dikabarkan kepada Rasmani. Hal ini membuat Rasmani berkecil hati dan menganggap Masrul tidak setia. Rasa putus asa Rasmani bertambah-tambah setelah Masrul mengatakan bahwa Rasmani tidak usah menunggunya kalau ada orang lain mencintainya, dalam suratnya yang datang kemudian. Keputusan Masrul itu membuat Rasmani jatuh sakit. Rupanya sakit Rasmani yang hmpir sembuh dengan kedatangan  Dalipah, kakaknya yang selalu mendampinginya dalam kesedihan, kambuh lagi karena dikabarkan bahwa Masrul berhasil mendapatkan pekerjaan dan membatalkan keputusan yang dulu disampaikan kepada Rasmani melalui surat yang datang menyusul.
“Surat yang membawa kabara baik itu rupanya lebih mengejutkan Rasmani dan lebih merusakan jantungnya yang telah luka itu, dari surat yang dahulu. Rasmani akhirnya meninggal tanpa disaksikan Masrul yang datang terlambat.

4.Unsur-unsur intrinsik
a.         Tokoh :
1.      Ibu Rasmani          : Baik, penyayang
2.      Dalipah                  : Penyayang
3.      Datuk Sinaro         :  penyayang
4.      Masrul                   : penolong, baik, terkadang egois
5.      Ibu Masrul             : egois
           
5.Tema   : Penyesalan yang terlambat
6.Alur     : maju mundur (campuran)
7.Latar   :
a.       Tempat          : di rumah, kuburan, sekolah, jalan tol, sawah, kota
b.      Waktu           : pagi hari, siang hari, malam hari
c.       Suasana         : menyedihkan, terharu, menyenangkan

8.Sudut pandang: orang ketiga serba tau
9.Unsur Ekstrinsik        
a.       Nilai Agama
selalu mengucap astafirulah ketika mengalami kesalahan dan selalu memohon kepada allah.
b.      Nilai kesopanan
Ketika Masrul hendak mau pergi merantau, dia banyak menemui orang-orang desa untuk mengatakan selamat tinggal bahwa dia akan pergi jauh. Terutama keluarga Rasmani.
c.       Nilai Moral
Masrul mengabaikan perjodohan orang tuanya dengan Aminah dan dia memilih  menikahi Muslinah  yang dijodohkan oleh gurunya.

10.        Kelemahan dan Kelebihan
a.        Kelemahan
Novel ini lumayan susah untuk dipahami karena masih memakai ejaan lama. Gaya bahasanya juga belum beragam.
b.        Kelebihan
Novel ini mengajarkan kita pentingnya  pendidikan. Walaupun Masrul tinggal di perdesaan tetapi niatnya untuk sekolah tinggi dan dapat pekerjaan sangat besar. Walaupaun hatinya sangat sedih untuk meninggalkan keluarga tercintanya yang ada di desa, tetapi dia harus melakukannya karena itulah yang dicita-citakannya sewaktu kecil.

11.        Kesimpulan
Novel Kalau Tak Untung ini menceritakan kisah dimana kakak beradik yang harus terpisah jauh karena faktor pekerjaan. Namun hal itu tidak memisahkan rasa sayang mereka terhadap satu sama lain. Mereka selalu berkirim surat walaupun membalas suratnya cukup lama.
Walaupaun mereka tinggal di perdesaan, tetapi itu tdak mematahkan semangat mereka untuk bekerja di negeri orang. Karena orang yang bersungguh-sungguh akan di berikan Tuhan keindahan dan kemudahan dalam menjalani pekerjaan.


Proudly Powered by Blogger.